Home Hipertensi Hipertensi Pada Wanita
Hipertensi Pada Wanita PDF Cetak Surel
Ditulis oleh dr.H.M.Edial Sanif,SpJP,FIHA   
Selasa, 06 Januari 2009 16:30

HIPERTENSI PADA WANITA ritaelit.jpg

Hipertensi ialah penyebab terbesar penyakit kardiovaskular di Amerika Serikat dan penyumbang terbanyak terhadap angka kesakitan dan kematian. Pria di dalam populasi umum memiliki angka diastolik tertinggi pada tekanan darahnya dibandingkan dengan wanita pada semua usia dan juga pria memiliki angka prevalensi tertinggi untuk terjadinya hipertensi.


 Walau pria memiliki insiden tertinggi kasus kardiovaskular pada semua usia, hipertensi pada pria dan wanita dapat menyebabkan stroke, pembesaran ventrikel kiri, dan disfungsi ginjal. Hipertensi terutama mempengaruhi wanita karena faktor resikonya dapat di modifikasi dan hipertensi sering terjadi pada wanita tua.

 

Perbedaan jenis kelamin pada tekanan darah

            Berdasarkan wawancara dan penelitian pada 9901 remaja usia 18 tahun atau lebih, badan survei kesehatan nasional dan penelitian nutrisi menemukan bahwa rata-rata tekanan arteri tinggi baik pada normotensi dan hipertensi pada pria dibanding wanita. Perbedaan jenis kelamin pada tekanan darah dapat dideteksi sewaktu muda dan masih anak-anak. Pada semua suku, pria mempunyai tekanan darah sistolik dan diastolik yang tinggi dibanding wanita dan juga usia pertengahan, prevalensi terjadinya hipertensi lebih tinggi pada pria dibanding wanita setelah usia 59 tahun. Survei dari badan kesehatan nasional dan penelitian nutrisi menemukan bahwa hipertensi lebih mempengaruhi wanita dibanding pria. Badan survei besar lainnya yaitu komunitas hipertensi mengskrining 1 juta penduduk Amerika pada tahun 1973-1975 menemukan bahwa rata-rata tekanan diastolik lebih tinggi pada pria dibanding wanita pada semua usia, padahal rata-rata tekanan sistolik lebih tinggi pada pria dibanding wanita sampai usia 50 tahun untuk kulit hitam dan usia 65 tahun untuk kulit putih, setelah itu lebih tinggi pada wanita dibanding pria. Deteksi hipertensi dan program follow up menemukan 158.906 orang pada usia 36-69 tahun dalam 14 komunitas antara 1973-1974 dan ditemukan hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibanding wanita pada suku bangsa yang sama

            Walaupun terdapat perbedaan dalam prevalensi terjadinya hipertensi pada pria dan wanita, yaitu pria muda dan wanita tua lebih sering mengalami hipertensi, ini adalah titik awal terdapatnya kontroversi. Perbedaan ini telah dilaporkan, namun tidak muncul dalam 30 tahun di Universitas Framingham. Rata-rata tekanan darah sistolik pada wanita tua di Framingham mendekati angka pada pria tua, namun tidak sampai melewati angka pria tua. Rata-rata tekanan diastolik lebih rendah pada wanita pada semua usia dan berkurang pada usia diatas 65 tahun baik pada pria maupun wanita.

            Alasan terjadinya perbedaan tekanan darah berdasarkan jenis kelamin belum diketahui, namun sedang diselidiki oleh beberapa laboratorium. Estrogen sudah dipercaya namun belum terbukti mampu menurunkan tekanan darah pada wanita muda. Dari data fluktuasi tekanan darah selama kehidupan membawa dukungan terhadap hipotesis tersebut, namun kejadiannya berhubungan dengan perubahan tekanan darah dari seluruh kehidupan sampai tingkat sel endogen terkecil. Pembelajaran tentang perubahan hemodinamis berhubungan dengan siklus menstruasi yang dibuktikan dengan rendahnya tekanan darah sewaktu fase luteal dari pada saat fase folikular. Bagaimanapun pemantauan telah dilakukan dan hasilnya tekanan darah lebih tinggi sewaktu fase luteal. Sewaktu terjadi kehamilan normal, kadar estrogen dan progesterone 50-100 kali lebih tinggi dibanding sebelum kehamilan dan tekanan darahnya sangat rendah. Bagaimanapun penurunan tekanan darah maksimal tidak bersamaan dengan waktu maksimal kadar hormon, hubungan antara tekanan darah dengan kadar hormon adalah kompleks dan biasanya dipengaruhi faktor lain.

            Pengaruh menopause pada tekanan darah masih kontroversial. Penelitian yang tidak mencatat tentang peningkatan tekanan darah sewaktu menopause, padahal penelitian sudah melaporkan peningkatan tekanan sistol dan diastol pada wanita post menopause. Staessen dkk, melaporkan prevalensi tinggi hipertensi terjadi pada wanita post menopause daripada wanita premenopause. Setelah mengetahui usia dan Body Mass Index (BMI), wanita post menopause akan tetap terkena hipertensi seperti wanita premenopause. Menopause berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dijelaskan pada suatu pelajaran, memiliki sifat yang bervariasi diantaranya peningkatan berat badan, penurunan aktivitas, dan peningkatan intake alkohol. Walaupun terjadi penurunan produksi estrogen di ovarium, namun estrogen memegang peranan penting dalam meningkatkan tekanan darah setelah menopause. Investigasi pada efek biologis dari estrogen sudah diperlihatkan pada hormon estrogen yang berasal dari 17-beta estradiol, menyebabkan vasodilatasi endotel. Selanjutnya pelajaran fungsi endotel menggunakan perangsang asetilkolin pada pembuluh darah lengan, diperlihatkan dengan berkurangnya vasodilatasi endotel yang berhubungan dengan menopause, mempengaruhi estrogen endogen dalam regulasi tekanan darah. Secara klinis diperlihatkan bahwa estrogen dapat mengatur respon tekanan darah terhadap stimulasi stress. Wanita post menopause dan pria memperlihatkan stress yang besar terhadap peningkatan tekanan darah. Usia mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada wanita yang terbesar pada usia 62 tahun, sehingga hilangnya estrogen bukan penyebab utama. Hasil penelitian di Finland diperlihatkan wanita yang menjalani histerektomi memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding wanita yang tidak menjalani histerektomi, pentingnya mempelajari faktor tambahan pada estrogen dalam hubungan dengan patogenesis peningkatan tekanan darah pada wanita post menopause.

 

Patofisiologi pada hipertensi primer

            Hipertensi yang terpenting adalah kelainan heterogen, bukan hal yang aneh bila beberapa faktor pathogen dari gen yang spesifik telah diidentifikasi. Wanita premenopause yang hipertensi memperlihatkan peningkatan detak jantung, ejeksi ventrikel, indeks jantung, dan tekanan nadi dibandingkan dengan usia yang sama dengan pria dan terjadi penurunan resistensi perifer total dan volume darah. Kadar renin dalam plasma yang rendah terjadi pada wanita premenopause dan post menopause yang mengalami hipertensi dibanding pria. Nordby melaporkan rendahnya kadar estradiol serum pada wanita premenopause yang hipertensi dibanding pada wanita yang normotensi.

            Satu aspek dari hipertensi pada wanita adalah tentang obesitas. Obesitas biasanya sering terjadi pada wanita usia pertengahan dibanding pria, dan hal ini menjadi penyebab mengapa berat badan sering mempengaruhi tekanan darah pada wanita dibanding pria. Walaupun ada hubungan antara obesitas dan hipertensi, mekanisme yang terjadi masih belum dipahami. Hubungan hiperinsulinemia dan resistensi insulin yang keduanya terkait dengan obesitas terhadap hipertensi masih dalam penelitian beberapa laboratorium. Secara signifikan hipertensi pada wanita dengan obesitas penting untuk merubah pola makan dan olahraga.

 

Hipertensi sekunder pada wanita

            Penyebab hipertensi sekunder pada wanita secara umum sama dengan pria dan pertimbangan yang sama terhadap tatalaksana dan evaluasi yang dilakukan. Penyakit ginjal parenkim harus dipikirkan pemeriksaan urinalisis dan serum kreatinin. Penyakit kolagen seperti SLE dan sclerosis sistemik, yang lebih sering terjadi pada wanita hipertensi dengan gangguan ginjal. Hipertensi renovaskular dengan diplasia fibromuskular adalah penyakit yang sering terjadi pada wanita muda. Mendapatkan hasil yang terbaik dengan renal angioplasti, kondisi ini sering terjadi pada wanita dibawah usia 40 tahun dengan hipertensi sedang berat. Hal ini sangat penting untuk mendiagnosis penyakit ini sebelum hamil, karena wanita dengan hipertensi renovaskular lebih sering mendapatkan komplikasi kehamilan. Feokromositoma walaupun jarang berhubungan dengan angka kesakitan dan kematian saat hamil, namun sering terjadi pada wanita muda yang hipertensi dengan gejala yang khas.

 

Hipertensi akibat kontrasepsi oral

            Estrogen eksogen sering pada kontrasepsi oral penting karena dapat menyebabkan hipertensi sekunder pada wanita. Dari data yang ada selama 24 tahun banyak wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral didapatkan peningkatan tekanan darah sistol dan diastol. Variasi peningkatan tekanan darah tergantung populasi dan sudah tentu tergantung dosis estrogen progestin. Tempat studi obat kontrasepsi Walnut Creek melaporkan dari 11.672 wanita terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 5-6 mmHg dan diastolik 1-2 mmHg pada wanita kulit putih dan resiko yang lebih rendah pada wanita kulit hitam. Pada tempat yang sama terjadi peningkatan tekanan sistolik 10 mmHg dan sistolik 6,9 mmHg.

            Hipertensi terjadi 2-3 kali lebih sering pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dibanding wanita dengan usia yang sama tetapi tidak menggunakan kontrasepsi oral. Resiko hipertensi meningkat sesuai dengan usia, durasi penggunaan kontrasepsi oral dan peningkatan berat badan. Kontrasepsi oral biasanya mengandung etinil estradiol dosis rendah (20-35 mikrogram). Data yang tersedia menyatakan adanya korelasi antara dosis estrogen dengan progestin terhadap tekanan darah. Insiden terkini mengenai hipertensi pada pengguna kontrasepsi oral lebih sedikit dibanding dahulu. Data terbaru menyatakan kontrasepsi oral dosis rendah estrogen meningkatkan resiko terjadi hipertensi dan resiko tersebut meningkat dengan penggunaan dan dengan peningkatan potensi progestin.

            Mekaniseme peningkatan tekanan darah atau perkembangan dari hipertensi akibat kontrasepsi oral masih belum jelas. Peningkatan berat badan, volume plasma, sodium, insulin plasma, resistensi insulin dan sintesis angiotensin hati dilaporkan berhubungan. Penelitian tentang system renin angiotensin pada hipertensi yang disebabkan estrogen. Penelitian pada tikus menggunakan kontrasepsi oral yang menyebabkan hipertensi, penggunaan estrogen menyebabkan hipertensi dan peningkatan angiotensinogen dan angiotensin-II. Hipertensi yang diinduksi estrogen merespon terapi ACE-Inhibitor. Penggunaan progestin juga meningkatkan tekanan darah, walaupun evaluasi tekanan darah menurun, durasi singkat dan berhubungan dengan peningkatan retensi sodium.

            Pengguna kontrasepsi oral harus dimonitor tekanan darahnya setidaknya setiap 6 bulan. Bila tekanan darah meningkat, lalu keputusan untuk menghentikan penggunaan kontrasepsi oral harus didasarkan pada derajat hipertensi, kemungkinan membahayakan kehamilan, dan resiko kardiovaskular. Walaupun lebih baik daripada menghindari kontrasepsi oral pada seseorang dengan tekanan darah tinggi, ini modal kontrasepsi dapat dipikirkan untuk berhati-hati untuk memilih pengguna kontrasepsi oral saat resiko kehamilan lebih tinggi dibanding resiko hipertensi ringan.

 

Terapi pengganti hormone (TPH)  dan hipertensi

            Pengaruh dari TPH pada tekanan darah masih belum jelas ketimbang efek kontrasepsi oral. Hubungan antara terapi estrogen pada wanita post menopause dan hipertensi telah dilaporkan pada tahun 1970an dan 1980an, dan sampai sekarang ini banyak dokter yang berpikiran hipertensi kontaindikasi terhadap TPH. Mekanisme peningkatan tekanan darah berhubungan dengan angiotensin seperti peningkatan retensi sodium, faktanya, preparat estrogen (premarin dan etinil estradiol) dengan kemampuan besar untuk merangsang hepar untuk mensintesis angiotensinogen memperlihatkan peningkatan tekanan darah sampai lebih panjang daripada preparat agar mendapatkan efek dari angotensinogen (estradiol natural dan estrogen transdermal). Walaupun efek dari hipertensi pada terapi estrogen post menopause tidak diselidiki secara konsisten sebagai kontrasepsi oral. Satu perbedaan yang terlihat lebih sering muncul berhubungan dengan peningkatan tekanan darah akibat kontrasepsi oral. Dosis etnil estradiol dalam pil kontrasepsi lebih poten dibanding dosis estrogen terkonjugasi yang diberikan pada wanita post menopause. Efek progestin sintetis pada tekanan darah kurang dipelajari pada wanita post menopause. Bukti awal tentang penyebab peningkatan tekanan darah adalah peningkatan retensi sodium.

            Data yang telah dipublikasikan menyebutkan bahwa resiko hipertensi akibat terapi pengganti hormone rendah, dan beberapa penelitian menyebutkan penurunan tekanan darah pada pasien yang diterapi dengan terapi pengganti hormone. Estrogen post menopause atau intervensi progestin untuk mengevalusi faktor resiko kardiovaskular pada 875 wanita post menopause dengan tekanan darah normal berumur 45-64 tahun, secara acak terhadap terapi dengan regimen yang berbeda pada terapi pengganti hormone. Selama 3 tahun di follow up tidak terdapat perbedaan pada tekanan darah sistol dan diastole pada setiap kelompok terapi dibandingkan dengan kelompok placebo. Pasien yang dalam uji klinis memliki tekanan darah normal awalnya, dan tidak diketahui walau wanita yang hipertensi akan berkembang menjadi peningkatan tekanan darah sewaktu mengkonsumsi terapi pengganti hormone. Pada 75 wanita hipertensi yang menggunakan terapi pengganti hormone telah gagal menunjukkan peningkatan tekanan darah setelah 12 bulan di follow up, namun data yang lebih besar pada pasien dibutuhkan untuk menjelaskan walaupun terapi pengganti hormone adalah faktor resiko peningkatan tekanan darah pada wanita post menopause yang hipertensi. Monitoring tekanan darah dengan ambulatory blood pressure pada wanita dengan tekanan darah normal yang menggunakan estrogen oral atau transdermal, yang diperlihatkan pada kelompok yang tidak ada peningkatan tekanan darah, 1 dari 3 individu terdapat peningkatan tekanan diastolic sebesar 4 mmHg setelah 6 bulan terapi.

            Secara singkat data yang tersedia sekarang mengatakan terapi pengganti hormone bukan penyebab tersering perburukan hipertensi pada wanita post menopause. Insiden peningkatan tekanan darah yang diinduksi terapi pengganti hormone pada individu dengan hipertensi stadium awal tidak diketahui. Peningkatan ringan pada tekanan darah berhubungan dengan terapi pengganti hormone dapat sulit untuk diketahui pada wanita yang siap menerima hipertensi, dengan tekanan darah yang fluktuatif terhadap perubahan berat badan, tingkat aktivitas dan diet. Harus berhati-hati mengikuti perkembangan tekanan darah pada wanita hipertensi yang menggunakan terapi pengganti hormone dan dipirkan terapi dengan efek minimal pada produksi angiotensinogen di hati (transdermal estrogen) bila kontrol tekanan darah sulit dilakukan.

           

Pengaruh jenis kelamin dan terapi pada hipertensi

            Perubahan gaya hidup. Terapi pada hipertensi ringan menggunakan perubahan gaya hidup masih sedikit dipelajari pada wanita dibanding pria, karena sedikit tingkat keberhasilan menurunkan berat badan. Penurunan berat badan adalah bagian terpenting untuk mengontrol tekanan darah pada wanita, biasanya wanita berprefalensi tinggi untuk obesitas seperti warga Afrika-Amerika. Efek dari penurunan berat badan pada tekanan darah tidak secara khusus dipelajari pada wanita, namun uji klinis jelas menunjukkan keuntungan yang diharapkan. Penurunan kegiatan aktifitas fisik berhubungan dengan tekanan darah tinggi pada wanita, namun uji terkini mengenai efek olah raga pada tekanan darah wanita belum dilakukan. Tetapi olah raga memberikan efek menguntungkan untuk mengontrol berat badan, mencegah osteoporosis, dan metabolisme insulin juga glukosa, dianjurkan meningkatkan aktifitas pada wanita yang hipertensi tanpa disertai unstable coronary artery disease.

            Rekomendasi diet sehat untuk wanita yang hipertensi sama dengan pada pria yang hipertensi. Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan pengaruh yang besar akibat pembatasan asupan sodium terjadi pada wanita dibanding pria. Pembatasan sodium harus diperhatikan pada wanita yang menyukai garam dan semua pasien harus berhati-hati memilih makanan sebaiknya makan buah, sayur dan makanan rendah lemak lainnya.

            Banyaknya konsumsi alcohol berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sehingga semua wanita yang hipertensi harus dianjurkan untuk membatasi konsumsi alkohol.

            Terapi obat hipertensi. Efek dari obat antihipertensi pada komplikasi kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan kematian tidak dipelajari secara khusus pada wanita. Uji klinis pada obat anti hipertensi termasuk pada wanita dan kelompok lainnya seperti wanita muda kulit putih menyebutkan rendahnya insiden komplikasi kardiovaskular. Terdapat kekurangan tenaga untuk mendeteksi seluruh efek terapi anti hipertensi. Percobaan yang dilakukan HDFP menunjukkan penurunan kasus stroke pada wanita yang mendapatkan terapi yang berkesinambungan. Keuntungan dari terapi obat hipertensi telah diperlihatkan secara jelas pada wanita Afrika dan Amerika juga pada wanita muda. Analisa pada uji klinis dengan angka mortalitas pada wanita yang tidak sesuai dilapangan. Tidak ada penurunan mortalitas pada kelompok yang diterapi secara aktif atau berkesinambungan. Terapi antihipertensi secara jelas menurunkan insiden stroke pada wanita. Penurunan kasus koroner tidak terbukti pada wanita, penemuan yang didapatkan oleh peneliti berupa penurunan resiko terjadinya penyakit jantung koroner pada wanita yang tidak mendapatkan terapi hipertensi.

Efek Samping. Efek merugikan dari terapi antihipertensi adalah tantangan terbesar pada tatalaksana hipertensi. Pertumbuhan tubuh adalah bukti bahwa terdapat efek samping yang spesifik terhadap jenis kelamin. Dalam tatalaksana hipertensi ringan pada 902 pria dan wanita yang mendapatkan terapi non farmakologi disertai dengan terapi obat antihipertensi dari berbagai macam jenis, wanita dilaporkan memiliki efek samping 2 kali lebih banyak daripada pria, walaupun insiden terjadinya efek samping pada wanita hampir sama dengan terapi yang menggunakan placebo dan obat-obatan pada setiap individu. Respon biokimia terhadap obat mungkin tergantung dari gender, wanita yang mendapatkan terapi diuretic lebih mungkin menyebabkan hiponatremi sedangkan pada pria lebih mungkin menjadi gout.  Hipokalemi lebih sering terjadi pada wanita yang mendapatkan diuretic. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor 2 kali lebih sering menyebabkan batuk pada wanita daripada pria. Efek dari obat antihipertensi pada lemak belum diselidiki secara mendalam pada wanita, namun ini adalah pertimbangan penting terhadap resiko kardiovaskular. Penelitian yang sudah dilakukan menyatakan bahwa wanita yang menopause mungkin dapat mempengaruhi efek obat pada lemak, diuretic dosis tinggi memperlihatkan peningkatan kolesterol total baik pada pria maupun wanita post menopause namun tidak pada wanita yang premenopause.

Terdapat hubungan dari efek terapi antihipertensi yang mempengaruhi fungsi seksual. Hal ini adalah tantangan yang besar untuk suksesnya terapi hipertensi pada pria, dan hal ini adalah bukti bahwa disfungsi seksual menjadi masalah pada wanita yang hipertensi. Bagaimanapun, informasi mengenai disfungsi seksual pada wanita telah ditemukan pada uji klinis atau dalam prakteknya. Lalu hal ini jelas dibutuhkan untuk investigasi lanjut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

           

Hipertensi adalah faktor resiko terpenting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular pada wanita. Walaupun wanita muda, wanita premenopause memliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan pria seusianya, tekanan darah meningkat sesuai dengan usia dan prevalensi terjadinya hipertensi lebih sering pada wanita tua. Penggunaan kontrasepsi oral meningkatkan resiko hipertensi pada wanita, dan wanita yang menggunakan terapi tersebut harus memeriksakan tekanan darahnya 2 kali dalam setahun. Resiko terjadinya hipertensi sangat jarang terjadi pada wanita normotensi yang mendapatkan terapi pengganti hormone. Beberapa penelitian penggunaan terapi pengganti hormone pada wanita yang hipertensi sudah dilakukan, dan informasi lebih sangat dibutuhkan untuk mengetahui resiko perburukan dari hipertensi pada wanita postmenopause yang mengalami hipertensi akibat terapi pengganti hormone. Investigasi pada perbedaan gender di dalam patofisiologi dan respon terhadap terapi hipertensi belum diselidiki secara luas, dan bukti yang sudah ada tidak mendukung terapi hipertensi yang spesifik terhadap gender pada waktu sekarang.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 02 April 2009 19:23
 

MALALARADIO 105.2 FM